Jumat, 24 Februari 2012

Naracap (eps.1)

Naracap edisi Selasa, berhubung libur kuliah dengan rencana ingin menonton. Janjian bertemu di sudut Mal daerah Bintaro. Aku menunggu selang 30 menitan kita bertemu. Ku menunggu mu sholat, lalu mencari sudut Mal untuk duduk dan melihat apakah ada film yang bisa kita tonton. Cari-cari ternyata film yang ada di Mal ini tidak mendukung mood kita untuk menonton.
Karena bingung harus kemana kalau tidak nonton, maka kita ke arah parkir motor dan kembali lagi masuk mal karena aku ingin melihat buku di Gramedia. Melihat buku kuliah ternyata tidak ada yang mendukung maka kita beralih ke sudut majalah. Kamu berhenti di rak majalah olahraga (sepakbola) cukup lama, aku berputa-putar hingga di rak buku-buku novel remaja. Aku hanya baca judul yang lucu, galau hingga jatuh cinta. Selesai di rak majalah, kamu menghampiriku dan saling ejek dari kata-kata yang ada di judul novel itu. Lelah di dalam mal, kita beralih naracap ke sudut fast food dan menghabiskan waktu di sana. Saling ejek manja, kamu merayu aku hanya tersenyum. Membahas FB masing-masing dan menceritakan kisah di setiap foto. Bergelantung manja di lengan kurusnya membuatku nyaman hingga jam di angka 11. Wah naracap kali terasa cepat, selesai membereskan perabotanku dan beranjak pulang. Meninggalkan cerita di meja fast food itu, kita pernah bermanja, bercerita dan menghabiskan waktu bersama.

Di Jalan Raya

Hari ini, banyak hal yang dirasakan. Seharian di jalan mengamati tingkah laku orang-orang dengan segala kesibukannya. Perjalan kali ini di mulai ke Senayan dulu, jalan yang di lewati sudah sangat di hapal karena tiap menuju arah pejompongan ya lewat sini. karena terburu-buru kenikmatan melihat orang Jakarta dengan berbagai urusannya di antara hotel berbintang, dan diantara deretan residance yang megah aku hanya mengamati. Selanjutnya menuju Mal Puri Indah, perjalan ke arah ini sedikit membuatku tidak nyaman karena ibu bos menghubungi dengan nada tinggi hanya bisa ku jawab baik bu. Tiba-tiba ke arah jembatan lima aku melewati rel kereta dengan kerumunan orang-orang yang terlihat tergeletak motor, odong-odong dan satu mobil keluarga. Orang-orang mengerumuni ingin tahu, aku ga tega melihatnya. Sepanjang perjalanan jembatan lima ada sungai kumuh yang aku lewati. Aku melihat mereka penghuni rumah pinggir sungai bisa tertawa tanpa beban berkumpul dengan sesama dan berbincang seru dengan pemandangan depannya air sungai yagn hampir meluap dengan warna yang entah apa coklat susu hitam tanpa merasa tak nyaman sedikitpun.
Selanjutnya aku dihadang oleh truk kontainer dengan tinggi yang menjulang setinggi fly over. Ada sensasi yang aneh ketika ku berada tepat diantara kontainer besar itu. Yang aku pikirkan adalah apa yang terjadi jika salah satu truk itu menyenggol motor yang aku boncengi *weeeeerrrllll*. Dengan teriknya panas aku kelilingi ASEMKA namun yang aku cari tidak ada. maka perjalanan pun berlanjut, berhubung sudah seminggu ini aku gatel-gatel dan ditambah berpanas ria maka yang dirasakan adalah sesuatu menjalar di dadaku ingin segera aku garuuuukk. Tujuan selanjutnya ke Sency, karena barang yang di cari tidak ketemu jadi aku hanya mondar-mandir tiap lantai untuk ke toilet menaburkan bedak gatal ke dada ku. Melihat orang dengan banyaknya uang begitu nyaman tertawa dan bermakan ria di ruang ber AC dengan fasilitas yang begitu memadai. Arah selanjutnya ke daerah Kebayoran Lama untuk membeli kertas. Melewati SMP-SMP ternama namun saya ada anak SMP tak bertanggung jawab membuat permainan sendiri dengan lawannya yaitu kejar-kejaran dan pukul-pukulan. Huuh, dari kecil aja seperti itu bagaimana nanti dewasanya ya. Para pekerja kertas begitu semangatnya tanpa melepas setiap puntung rokoknnya, terlihat menikmati pekerjaan tersebut. Selesai kertas aku mengambil frame ke daerah Gandaria. Menggotong 29 pc frame segera menuju pulang CILEDUG.... Perjalanan ini begitu aku nikmati dengan semua khayalan di memori membuat cerita sendiri di sepanjang jalan. Dengan melihat semua kejadian ini, aku sangat bersyukur dengen keindahan yang selalu aku rasakan. Tak perlu jadi mereka yang bersendagurau di pinggir sungai dan tak mampu juga bila seperti mereka di dalam Sency. Aku dengan lingkunganku dengan komunikasi yang lebih sering miss daripada tepatnya, namun aku sangat bersyukur...

Rabu, 15 Februari 2012

Jatuh Hati

Perasaan menggebu saat tak bertemu, timbul rasa kangen yang tak habis pikir.
Menyebalkan..dan sangat menyebalkan hanya melihat wajahnya yang tersimpan di handphoneku. Tak bisa memenuhi ruang kangen ini..

Pertemuan direncanakan dan ia menemaniku sepanjang harinya, aku tersanjung..
Terlihat sangat lelah dan menjenuhkan namun ia ada disampingku disaat aku menoleh ke sampingku...

Menemaniku hampir dihari liburnya di saat ia harus bermanja di kasur namun untuk memnuhi ruang kangen ini ia rela. Aku tersanjung...

Saat ia meminta di smskan kata-kata semangat aku hanya bisa menjawab, " aku akan lewat jalanmu, mudah-mudahan kita bisa bertemu". Dan di sepanjang jalan aku perhatikan motor milikmu hingga di perempatan itu aku melihat jaketmu. Loncat kegirangan hati ini.

Sederhana,,,
Namun ada sesuatu yang membuatku tak kuasa berfikir untuk melakukan itu, Alhamdulillah..


Malam ini, kita bertemu membahas keseharian dan kegiatan yang akan datang, tertawa senang hingga menatap tak berkedip...
Mendengarkan lagu "D'Bagindaz: Ay", "Afgan: Bawalah Cintaku" dan "Beautiful Girl" bersama mu di bawah pohon dekat musholla kampusku.

Aku tidak menyangkan akan benar-benar merasakan ini yang biasanya aku hanya dengar dari curhatan teman-teman. Aku menikmati kebersamaan ini, aku harus mengakui aku jatuh hati".

Dua bulan kita lewati bersama, katamu "Mudah-mudahan kita berjodoh"
Insya Allah...

Selasa, 07 Februari 2012

Kata "Sayang"

Membaca kata Sayang membuat hati ini bergemuruh memberi arti, mengartikan entah apa. Mungkin senang karena ada yang menyanyangi atau bingung apakah bisa merasakannya kata Sayang itu. Terlihat mudah untuk menuliskannya diakhir setiap sms atau setiap akhir pertemuan "naracap" kita.

Aku sulit membalas kata Sayang bila harus melihat matanya. Mata yang menyorot entah apa arti didalamnya. Tapi sorotan mata ini lebih jujur daripada tatapan mata sebelumnya. Menatapku dan berucap "Aku sayang kamu" dengan makna yang membuat dadaku berguncang. Bergemuruh loncat dari panasnya rasa ini.


Huuuhh...memang kisah ini seperti anak-anak SMA yang sedang unyu-unyu nya membanggakan hubungan yang sedang mesra ini. Tapi sekarang aku bukan anak SMA aku sudah hampir di pertengahan usian 20an. Malu terkadang kalau sikapku yang terlalu seperti ini, tapi aku menikmati setiap respon dari sikapnya melalui hatiku.

Sayang...uuuhhh, menulliskan kata ini memori beranjak ketatapan matanya dan berdegupnya jantung ini. Apa aku termasuk perempuan yang gampang diluluhkan dengan kata-kata Sayang.

Tapi biarlah aku ingin merasakan ini dan menikmatinya hingga waktu yang diizinkanNya. Sebelum aku jatuh dan bangkit kembali berbunga-bunga didalam pot yang hanya berisi tanah.

Semua adalah proses yang sedang aku pelajari dan kata "Sayang" yang diucapkannya menjadikan aku benar-benar ingin melihat matanya yang membuatku segera lagi kepunggungnya dan memeluk erat tanpa menghiraukan kalau ia sesak hingga sulit bernapas.

Aku menikmati itu, "Sayang"

Sabtu, 04 Februari 2012

Aku Kamu....



Melihat mata mu begitu membuatku malu, kepolosan tatapan mu membuatku tak bisa mengelakkan rasa yang terus ditanam oleh mu. Perasaan memiliki begitu menggebu walau malu untuk terungkap. Saling ledek, saling mengingatkan dan saling melengkapi.

Walau ini baru menuju 2 bulan namun yang diberikan mu membuatku memiliki hutang budi untuk membalas dengan rasa yang sama. Memang terlalu dini untuk bersenang-senang karena kita baru saling memiliki. Banyak harapan yang aku gantungkan akan hubungan ini, aku ingin langgeng.

Aku bukan termasuk perempuan yang bisa mengungkapkan kata-kata cinta namun aku bisa mengungkapkan melalui tingkah dan responku. Mungkin kamu yang lebih ekspresif dan aku menikmati semua keindahan yang kamu berikan. Walau aku ga bisa membalas dengan kata yang sama tapi aku merasakan hal yang sama.

Perhatian mu membuatku selalu merasa jadi orang yang sangat beruntung memilihmu. Walau malu untuk mengakui di depan mu. Namun semua yang terjadi bersamamu sangat aku nikmati, aku pelajari dengan baik.

Menggenggam tanganmu membuat dada ini sesak akan gemuruh rasa yang entah apa yang aku rasa. Membuatku menikmati setiap genggamannya. Menatap matanya menjadikan ku perempuan yang benar-benar dimiliki. Meluangkan waktunya untukku disetiap senggangnya membuatku tersipu malu. Membalas sms dan menerima telpon darimu membuat dadaku berdetak lebih cepat. Mendengar suaramu membuatku yakin akan perlakuannya.

Terkadang membingungkan hingga berada dititik rasa ini. Memiliki utuh namun malu. Malu karena terlalu dini, malu karena memang butuh proses, malu kalau semua harapan itu runtuh dan memulai dari awal lagi.

Terlalu puitis kata ini, bahkan terlalu lebay namun ini aku yang merasakannya tanpa bisa mengungkapkan langsung di depan matamu yang membuatku luluh. Semoga keindahan ini dapat aku rasakan terus dengan proses waktu yang terus berdetak. Merasakan rasa ini dengan mu karenaNya membuatku sangat bersyukur.

KeindahanNya sedang aku rasakan...

Terima Kasih sudah memilihku, mengenalku, meluangkan waktu untukku, dan meluluhkan hatiku.
Semoga ini keindahan yang nyata dariNya.