Minggu, 22 Desember 2013

Working Women Who Try to Be ‘Supermom’ May Be More Depressed


By Bonnie Rochman @brochmanAug. 23, 20112 Comments

Email Print Share  Comment
Follow @TIMEHealth
You know all that maternal hand-wringing over staying home with the kids versus going back to work? Well, working seems to translate into less depression for mothers, but to really guard against symptoms, it’s important to kiss the supermom façade goodbye.

New research finds that working mothers who believe that home and office can be seamlessly juggled are at greater risk for depression than their more realistic maternal colleagues who accept they can’t do it all.

Any woman who’s peeled a sobbing toddler from her thighs as she’s running out the door for work probably won’t find this news surprising. Ditto for any woman who’s begged off a 5 p.m. meeting to zoom to a kid’s soccer game where that kid scores no goals and has no assists but at least knows his mom cared enough to show up. Every accommodation has a repercussion; embracing that, says Katrina Leupp, a University of Washington sociology graduate student who authored the study, is key.

MORE: Chore Duty: Do Fathers Still Have It Easier Than Mothers?

It’s inevitable that working moms will need to compromise on some aspects of the way they approach their career or their parenting — or both. “If you think you can have it all, don’t,” says Leupp, who presented her research Aug. 21 at the American Sociological Association’s annual meeting in Las Vegas. “Maybe knowing that you can almost have it all is the better way.”

Leupp looked at 1,600 women — a mix of working and stay-at-home mothers — who had participated in the National Longitudinal Survey of Youth, which began tracking kids in 1979 when they were between 14 and 22 years old; the oldest participants are now about 50. As young adults, the women were asked in the following eye-popping statements to rate their attitudes regarding women’s employment:

It’s much better for everyone concerned if the man is the achiever outside the home and the woman takes care of the home and family
Women are much happier if they stay at home and take care of their children
The employment of wives leads to more juvenile delinquency
Leupp then analyzed those answers alongside a score of the women’s level of depression when they were 40. Her findings confirmed earlier studies that showed that women who are employed have better mental health than stay-at-home mothers, and also revealed that women who rejected the myth of the Supermom were less likely than Supermom-wannabes to have symptoms of depression. Results remained similar when marital satisfaction and hours worked were considered.

It’s important to note, says Leupp, that job quality — in terms of women’s perception of whether they enjoy their work — also matters: you have to really like what you’re doing.

MORE: Study: Why Maternity Leave Is Important

Leupp will likely take a cue from her mother, a first-grade teacher who stayed home for a year before returning to work, should she have children of her own. Says Leupp: “Staying home probably wouldn’t be the best choice for me personally.”

Because while balancing work and family is certainly stressful, observes Leupp, what about the alternative? “To be a stay-at-home mother is also stressful,” she says. “Other studies have looked at spillover: you’re on your Blackberry when you want to be playing with your kids or you have to leave work to pick up a sick kid. But there is also a positive spillover: your role as a parent makes you a more patient boss, or having time away from your kids makes you a happier parent when you’re with them.”

In a press release, Leupp was quoted as saying: “You can happily combine child-rearing and a career, if you’re willing to let some things slide.”

It sounds like sage advice, but in reality, I find it off-putting. Where’s the rubric that decides which things should be allowed to slide? If you neglect your job, you’re probably not going to get very far ahead. Shortchange your kids, and it’s hard to overcome the guilt you’ll feel for skipping a school play or that scoreless soccer match.

Leupp’s research didn’t focus on work-from-home moms like me, but that’s tough too. Office-goers may be jealous of my lifestyle, but pounding out copy from the kitchen has its pitfalls, particularly when it comes to delineating the boundaries of home and work. On particularly stressful days, I fear my kids’ abiding image of me will be Mom hunched over the MacBook. “Why you always got to do work?” is my 4-year-old’s favorite refrain.

That said, work sustains me, just as it does for many women. We’ll continue to pull double duty as employee and mom because — despite the pressures — being both really does make us feel good.

Bonnie Rochman is a reporter at TIME. Find her on Twitter at @brochman. You can also continue the discussion on TIME‘s Facebook page and on Twitter at @TIME.

Jumat, 20 Desember 2013

Undangan Acara

Kamis di minggu ke 2 Desember ini, saya ditugaskan untuk menstyling panitia acara pemilihan wajah di suatu majalah terkenal di Indonesia. Acara dilangsungkan di Mall daerah Kuningan, mulai styling dari jam 15.00 wib 2 panitia yangkami styling.
Saya bersama salah satu tim stylis yang mengenakan busana hitam-hitam berdasarkan kesepakata  para stylis memggunakan warna tersebut. Lain lagi dengan saya mengenakan busana warna toska dan coklat, setelah melihat undangan yang tercantum di sana adalah GLam Rock. Dan saya yang salah kostum ckckcc...

Acara mundur sekitar 2 jam, beruntung karena punya undangan jadi bisa makan-makan di Lounge. Pintu pun dibuka, kami duduk di sisi kanan baris ke 3. Acara dibuka oleh Kikan dan para finalis. Ada salah satu finalis yang ternyata biasa dijadiin model namanya mba Hanny Fenesia No. 15.

Selang tak berapa lama, tiba-tiba seluruh lighting mati MC pun tetap bercuap-cuap demi mempertahankan croweded dari audience. Lama lighting tak nyala dengan berbagai cara pun finalis dan MC harus mencari cahaya yang hanya memancar dari ruangan gedung dan dibantu sorot lampu lainnya.

Berjalan cukup lancar, karena MC mampu membuat suasana jadi tetep asyik dan seru. Jam 21.53 seluruh lighting kembali nyala, namun kami pun harus segera meninggalkan tempat acara karena takut pulang larut malam.

Jakarta habis diguyur hujan, ku beranjak meninggalkan daerah Kuningan menggunakan taksi warna putih. Pening sambil ngunyah coklat bermede ini, maklum tadi shaum dan hanya memakan menu koktail (es krim, dim sum, brokoli) cukup membuat perut ini bergejolak hingga saraf di kepala.

Cukuplah pengalaman kamis ini (sambil tetep ngunyah)

Selasa, 17 Desember 2013

Foto di Semarang

Berada di Semarang menjadi salah satu mimpiku yang terwujud, alhamdulillah...

Semarang

Awal bulan mendapat tugas mendampingi 3 artis dalam acara Festival Film Indonesia di Semarang. Tanggal 6 Desember 2013, saya berangkat ke Semarang menggunakan Sriwijaya Air. Tiba di Semarang pukul 10 lebih pagi hari, tujuan pertama adalah Hotel. Hotel yang telah dibooking kantor adalah Hotel Semesta, tidak dapat kamar non smooking. Istirahat sebentar, pekerjaan sudah menunggu sore ini aku harus memakaikan kerudung ke 3 artis yaitu (Avi Basalamah, Henidar Amroe, dan Rachel Maryam)

Sore tepat jam 4 sore aku sudah menunggu di Lobby Novotel, tak lama Bu Avi terlihat mondar mandir. Setelah bertanya-tanya ternyata koper Bu Avi tertinggal di Jakarta sehingga membuatnya panik. Jadilah aku yang harus mondar mandir membelikan air untuk kontak lensa, beli kaos, ganti size sehingga keluar masuk Mall Paragon lebih dari 6x. Dan sore ini aku hanya membantu Bunda Henidar yang akan Gala Dinner di Crown Hotel.

Selesai aku lanjut menemui Mba Rachel untuk menemaninya makan malam dengan rekannya. Mobil berhenti di Koenakoeni dengan pemandangan lampu rumah yang berjajar indah ditemani dengan gerimis. Selesai makan saya kembali ke Hotel.

Hari ke 2 di Semarang, pagi-pagi sudah standby di kamar Bunda Henidar, membantunya berpakaian dan berkerudung hingga menemaninya breakfast. Selesai menemani bunda, aku melanjutkan menemui Bu Avi untuk trial kerudung acara nanti malam. Lalu makan siang dengan Mba Rachel dan rekannya.

Malam yang ditunggu tiba, setelah membagi waktu antara 3 ibu tersebut. Aku berbarengan dengan Mba Rachel masuk ke gedung Marina Convention Center. Menemani mereka dalam acara Festival Film Indonesia. Hingga malam berakhir di Simpang Lima.

Hari ke 3, aku masih harus menemui Bunda Henidar untuk membawa busana yanga dipinjamnya dikembalikan. Siang hari, aku menaiki becak keliling Semarang dari Lawang Sewu hingga Mesjid Agung. Dan sore hari, aku hanya berdiam di kamar.

Hari ke 4 dari pagi mulai packing lalu breakfast dan berkeliling mencari oleh-oleh. Lalu kembali ke kamar hingga waktu berangkat ke Bandara. Sorenya aku sudah berada di Bandara Soekarno Hatta.

Semarang, kota kecil berair dengan julukan kota banjir. Tampak panas sekali namun dikala hujan, suasana dingin pun terasa. Indah dan berbeda, insya Allah aku bisa mengunjunginya lagi.

Minggu, 17 November 2013

Mengejar Mimpi #3

Di awal tahun 1435H ini saya diizinkan mewujudkan mimpiku lagi yaitu berkunjung ke Borobudur. Kamis, 6 November 2013 geng ber 6 ini berangkat menggunakan kereta api ekonomi AC bogowonto menuju Jogjakarta. Menemupuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam.

Tepat jam 4 subuh hari kami tiba di stasiun tugu menumpang dengan taksi yang telah ditawar segera mengantarkan kami ke homestay di jalan Gejayen.

Pagi ini setelah beristirahat, jam 10 pagi kami beranjak menggunakan Trans Jogja menuju Pasar Beringharjo. Makan siang diemperan pasar dengan pecel seharga 10 ribu rupiah. Berkeliling pasar dengan usaha menawar serendah-rendahnya namun kami tidak berhasil, melanjutkan menuju Mirota. Kesenangan masuk ke Mirota adalah harum dupa yang khas dan pernak pernik jawa banget. Berkeliling 1 jam namun saya pun tak berhasil menemukan yang menarik hati sehingga cukup membeli kalung dan gelang kayu untuk oleh-oleh.

Pada siang itu kami melanjutkan menggunakan Andong sewaseharag 20 ribu ke Taman Sari melihat tempat mandi para selir kerajaan. Menghabiskan siang di Mesjid dekat tempat wisata tersebut dan terlihat awan mendung bersegera hujan.  Berlari agar tak kehujanan kamipun menumpang becak seharga sama seperti andong. Berhujan dibawah plastik gayuhan bapak becak menuju pabrik pembuatan bakpia 25. Berbelanja dan berhenti di depan Mirota kembali, segera menuju halte Trans Jogja. Membawa belanjaan bakpia itu cukup merepotkan di antara desakan penumpang Trans Jogja dan jalurnya berputar agar sampai pada jalan Gejayen kembali untuk beristirahat.

Hari ke 2 kami bertambah 2 orang, menyewa pregio seharga 650 ribu rupiah untuk menuju pinggiran pantai selatan. Berawal dari pantai baron yang panas tepat jam 12 siang, lanjut ke pantai kukup dengan keindahan pasir putih dan karang, dan berakhir di pantai Indrayanti yang nama sebenarnya adalah Pantai Pulang Syawal. Menunggu sunset yang malu menampakkan dirinya, beberapa teman bermain di pinggir pantai, kami ber 4 berbaring seperti bule plus kacamata hitam lebar menutup hidung.

Hari ke 3, jam 3 dini hari kami bersemangat chek out untuk berkeliling sisa waktu di Jogja. Bertujuan ke melihat Sunrise di Punthuk Setumbu, dilanjutkan menikmati pagi di hari Minggu di Borobudur, lanjut ke Volcano Tour menggunakan Jeep ala film-film barat, lanjut ke Candi Plaosan, Candi Prambanan, berakhir di sekitaran alun-alun dan Malioboro. Dan standby di Stasiun tepat jam 5 sore dengan kondisi muka penuh pasir merapi, memerah kepanasan di Prambanan dan bau yang semerbak karena paginya tidak sempet mandi (ups, jangan bilang-bilang).

Tepat jam 6 sore kereta AC ekonomi Gajah Wong meninggalkan stasiun Tugu menuju Stasiun Senen di hari Senin dengan jadwal Meeting yang padat.

Alhamdulillah, satu per satu ku wujudkan mimpiku....

Kamis, 10 Oktober 2013

Mengejar Mimpi #2

Waktu yang ditunggu tiba, dengan perjuangan selama 4 tahun terbayar dengan prosesi ini. Berhubung tidak boleh diambil gambar saat acara maka foto yang dilampirkan adalah selesai acara.
Kebanggan ini disuguhkan untuk kedua orang tua yang mengizinkan aku berjuang menempuh pendidikan ini hingga menghabiskan semua gajiku. Terima kasih, aku hanya ingin membanggakan bapak sama mama.
JCC, 8 Oktober 2013





Mengejar Mimpi #1

Ketika tawaran ini datang, sebenarnya keadaan ekonomi tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Namun demi mimpi, bismillah ku iyakan dan berusaha ku penuhi aturannya. Menggunakan alokasi dana yang seharusnya untuk ibadah, kugunakan untuk jalan-jalan. Bergabung dengan grup berbeda dari sebelum dan hanya mengenal 1 orang ( dia itu sahabat saya). Menunggu tanggal yang dijanjikan begitu lama tibanya dan Jumat, 27 September 2013 kamipun berkumpul di Gambir untuk melakukan perjalanan menggunakan Argo Lawu menuju Purwokerto.
Tepat di jam 02.00 WIB dini hari kamipun tiba. Dilanjutkan perjalanan menuju Wonosobo menggunakan mini bus. Kami menginap di Pondok Besan masih di kota Wonosobo karena untuk mencapai Dataran Dieng membutuhkan waktu 1 jam saja.
Berkeliling Dataran tinggi Dieng hingga Hari Minggu 29 September 2013 dan kami pulang menggunakan kereta api ekonomi AC dari Stasiun Tugu Jogyakarta.
Berikut foto-foto kami hingga melihat sunrise di Bukit Sikunir :
 

Sabtu, 22 Juni 2013

Bersama anak - anak

Hari ini berkunjung memenuhi undangan pak Ismail, perjalanan ke bekasi selama 4 jam aja.

Dalam mobil yang saya naikkin adalah kelompok para balita jadi...rame dengan segala tingkah lakunya.

Ini foto-foto sebelum berangkat dan di dalam mobil.
Ada Maulida, ada nayla (2 balita ini puuupp *ups* di mobil) dan ada abang dul...