Selasa, 22 Januari 2013

Dalam Hitungan Waktu

Januari 2013 Awal tahun dengan semua rencana dan resolusi. Di awal tahun ini, pengajuan pinjaman dari kantor untuk persiapan skripsi alhamdulillah di accept. Dimulai dari pinjaman ini banyak rencana untuk membeli laptop, printer, dan gadget terbaru. Semua rencana di atas kepala terangkai satu persatu untuk berusaha mewujudkannya. Menemui kaprodi dosen kelas malam dan mengajukan hasil mata kuliah yang sudah diambil, dan harapan itu muncul untuk melaju ke gerbang skripsi yang insya Allah di Maret ini aku berjuang. Hari-hari yang dilewati seperti biasa sibuk dengan bekerja event dan perjalanan dinas. Hingga kejadian yang pertama kali aku alami. Senin malam, mama dan bapak yang memang sedang kumat darah tingginya menjalani malam tak seperti biasa. Bapak berkumpul dengan bapak-bapak dekat rumah hingga jam 00:00 dini hari.Aku mulai beranjak tidur saat mas ku yang kedua sudah pulang. Tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh di samping kamarku, meloncatlah aku dari kasur dan saat ku keluar kamar kulihat mamaku sudah diposisi yang menyedihkan. Kepala posisi ditangga pertama sedangkan kaki berada di atas si tangga ke 4. Mata kosong, lemas, tak berdaya. Kurangkul kepalanya bermaksud menolong untuk membangunkannya, namun aku tak kuat saat kulihat darah penuh di lengan dan kepala mamaku. Aku berteriak memenaggil bapak, dan bapak menghampiri. Kami berdua membantu mama ku untuk pindah ke ruang tamu. Ku panggil kedua kakakku, dan berkumpulah kami untuk melakukan pertolongan pertama. Kami bawa mama ku ke Klinik terdekat, dokter jaga di Klinik tidak sanggup karena tensi darah mama 190/100. Segera masku mencari taksi dan kami bawa ke Rumah sakit. Sampai rumah sakit langsung masuk UGD, luka menganga dijahit dengan 10 jahitan. Tak kuat aku melihat itu semua. Semua diobati dan rawat inap selama 2 malam. Pelayanan di rumah sakit tersebut lumayan bagus, bersih, susternya tanggap. Namun ada yang membuatku tidak nyaman yaitu tanggapan dari dokter syarafnya dan ketidaktersediaan air bersih selama 2 hari berturut-turut. Segera kami ambil keputusan untuk membawanya pulang. Wajah sumringah terpancar di ketidakberdayaan fisiknya. Semalam kita di rumah, mama tidak kuat karena keseringan kejang-kejang. Segera kami bawa ke rumah sakit yang lebih jauh dengan dibantu oleh tetangga di rumah. Hingga saat ini (22/1/2013) masih terbaring lemas dengan diagniosa pendarahan otak, darah tinggi, dan diabetes. Rumah sakit yang saat ini, kami mengajukan kartu Multiguna (kartu kesehatan untuk penduduk Tangerang). Dengan respon dari dokter syaraf yang antusias, suster yang melayani dengan baik. Dalam sehari bisa didatangi oleh 3 dokter jaga dan 1 dokter syaraf. Banyak harapan dan doa, agar mama ku dapat sehat kembali. Dengan kondisi apapun akan aku jaga mama ku hingga aku tak sanggup berdiri. Saat pulang ke rumah, kembali memori kejadian itu terus terulang. Aku merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku tak bisa menangguhkan apapun untuk kesembuhan mamaku. Ibadahku belum mampu untuk aku gadaikan. Semua terjadi dalam hitungan waktu tanpa tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Love u mama...